Emosi mengalahkan nurani

Aku tadi malam pulang cepat sekitar jam 09: kurang 10 menit dari biasanya jam 09:00, maklum siswanya minta cepet pulangnya, oh ya memang aku pulangnya malam terus, karena memang demikian jam ngajarnya. Rumah sekitar 15 km dari tempat kerja, biasa aku pakai “produk buatan Jepang” untuk bolak-balik dari kerja ke rumah, maklumlah kerja sistem 6:1  (he he he 6 hari kerja 1 hari libur..!)

Memang sih jalan ke rumah udah ramai orang yang juga pulang malam. Aku biasanya pakai motor kalau malam dengan kecepatan 50, lagian kadang-kadang lampu jalan ada yang mati, jadi aku nggak  berani terlalu ngebut, takut terjadi apa-apa. 

Tapi nggak tahu juga tadi malam, memang sih kecepatan cuma 50 awalnya, namun tiba-tiba dari arah belakang motor ada yang kencang, mungkin sekitar 60 atau 70, sedangkan aku sebenarnya nyantai aja.  Setelah dia lewat dengan kecepatan itu, hati ku mulai nggak tenang. “Kenapa aku ya’ ada apa denganku”.  Dalam hati “dia kok kenceng-kenceng sih bawa motornya, apa gak takut jatuh”. Emangnya dia aja yang bisa kenceng”. Lha ..kalau udah ada pikiran kayak gini, aku langsung tancap gas, berusaha melewati dia. dan betul akhirnya aku berhasil melewati dia, yang tentunya dengan kecepatan 60 lebih. Dan sampai belokan rupanya ada lagi yang mau melewati. Aku berpikir lagi… Wah ada lagi nih yang mau ngajak balapan. Sehingga aku tambah lagi kecepatan, dan di tempat agak ramai pas pula di jalan gundukan nyaris saja aku terjatuh, tapi Alhamdulillah aku selamat. Hampir 15 menit aku di depan dari orang yang akan melewati ku yang tentunya dengan kecepatan yang makin lama makin bertambah dan akhirnya aku berhasil kerumah dengan posisi didepan orang tersebut.

Dalam hati terasa puas, aku sudah hebat, sudah tangguh…! Tapi hati kecilku berkata ya Allah apa yang telah aku lakukan tadi.. bawa motor dengan kecepatan tinggi, malam lagi. Bagaimana ini bisa terjadi, apakah aku nggak berpikir, nanti kalau aku kecelakaan bagaimana aku nanti, bagaimana istri dan anakku, bagaimana masa depanku, bagaiman orang tua, karena mereka sangat bergantung padaku. Kalau masih di atas motor memang kadang-kadang jarang yang berpikir panjang, bagimana akibatnya bila terjatuh, atau yang lebih fatal lagi. kenapa emosiku mengalahkan nurani ku…..!!!!

Satu Tanggapan

  1. Ya sudah…lain kali jangan diulangi lagi saja mas. Lagian kalau ngebut nanti boros BBM juga😀
    Terakhir ngebut sekitar setahun yang lalu karena iseng pengin nyoba top speed motor, kalau sekarang saya sudah tidak ngebut lagi. Tetapi bukan karena kapok sih, tetapi karena sekarang naiknya cuma sepeda kayuh hehehe…
    Salam kenal mas…

    Salam kenal kembali. Trim’s atas sarannya aku akan hati-hati kalau naik motor …!Lagian kalau dipikir-dipikir ngapain ya ngebut-ngebut kecuali di kejar setan mungkin nggak apa-apa..!Haa..lah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: