Menahan Amarah

Disadur dari : (muslimsources)

Dari Sahl bin Mu�adz bin Anas dari ayahnya bahwa Rasulullah SAW bersabda: �Barangsiapa yang menahan amarah padahal ia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah SWT akan memanggilnya nanti di hari kiamat di hadapan seluruh makhluk dan memberinya pilihan di antara bidadari-bidadari yang ia suka� (HR Abu Dawud).

Takhrij
Hadis ini diriwayatkan Abu Dawud (5/90) no. 4777, at-Tirmidzi (6/156) no. 2021, Ibnu Majah no. 4186, Ahmad (3/440).

Perawi Hadis

Mu�adz bin Anas al-Juhani al-Anshari, seorang sahabat Rasulullah SAW yang pernah tinggal di Mesir. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan di dalam kitab al- Ishabah: �Tidak ada yang meriwayatkan hadis dari Mu�adz bin Anas kecuali putranya (Sahl bin Mu�adz)�. Maka dari itu, di kalangan ahli hadis, ini dikenal dengan babul wihdan.

Penjelasan Hadis
Sabda Rasulullah: Menahan amarah. Hadis Rasulullah SAW ini telah menegaskan kepada umatnya, bagaimana seorang Muslim harus menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang terpuji sesuai dengan apa yang diajarkan Allah SWT dan Rasul-Nya. Agama Islam merupakan agama yang membawa misi Rahmatan lil �alamin. Dalam arti hubungan horisontal antar individu makhluk Allah merupakan suatu ajaran yang tak terpisahkan dari hubungan vertikal dengan sang khalik.

Lihatlah, bagaimana Rasulullah telah menggantungkan ridha Allah pada etika umat ini dalam menyikapi kesalahan yang dilakukan sesamanya ke padanya. Begitu pentingnya tabiat ini bagi seorang Muslim, maka Rasulullah SAW selalu menasihati sahabat-sahabatnya untuk selalu menahan amarah.

Haritsah bin Qudama as-Sa�di r.a. meriwayatkan bahwasanya beliau bertanya kepada Rasulullah SAW: Baru dicari haditsnya �Ya Rasulullah nasihatilah aku dengan beberapa kalimat yang bisa berguna bagiku dan sedikitkanlah nasihat itu sehingga aku bisa mengingatnya�. Rasulullah SAW bersabda: �Jangan marah�. Lalu beliau mengulang-ulang pertanyaan itu dan Rasulullah SAW selalu menjawab: �Jangan marah�(HR Ahmad).

Dua kata yang sangat mudah untuk diingat tapi sangat sulit untuk diamalkan. Terutama di dalam masyarakat yang nilai-nilai materialis telah mengalahkan nilai-nilai persaudaraan. Jika itu yang selalu dinasihatkan dan diulang- ulang Rasulullah SAW kepada para sahabat yang dicintainya, maka yang tertanam di dalam dirinya kehalusan budi pekerti Rasulullah SAW. Yang tertancap dalam kalbu mereka adalah sabda Rasulullah SAW: �Tidaklah beriman salah seorang di antaramu sekalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri�. Bagaimana dengan kita yang mulai memandang saudara kita seagama dari kaca mata ras, keturunan, warna kulit, dan kasta yang tidak pernah dibiarkan berkembang di kalangan sahabat Rasulullah SAW? Untuk itulah kita harus senantiasa menanamkan dan mencamkan nasihat ini dalam setiap langkah dan perkataan kita.

Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat ali-Imran 134, yang artinya �Dan yang menahan amarah�. Maksudnya adalah apabila datang kepadanya amarah hendaknya ia menyembunyikannya dan tidak melampiaskannya serta hendaknya ia memaafkan orang yang telah berbuat salah kepadanya�.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan suatu atsar �perkataan para sahabat atau tabi�in- yang mengatakan: �Allah SWT berfirman: Wahai bani Adam ingatlah Aku tatkala engkau marah, niscaya Aku akan mengingatmu ketika Aku marah, sehingga Aku tidak akan membinasakanmu bersama orang-orang yang aku binasakan�. Menahan amarah merupakan suatu sifat yang membutuhkan kebesaran jiwa dan keikhlasan niat. Dan ini tak mungkin bisa dilakukan oleh orang-orang yang berkepribadian kerdil. Oleh karenanya Rasulullah SAW memilih mereka yang mampu menahan amarah sebagai sekuat-kuatnya makhluk Allah. Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda: �Orang yang kuat bukanlah yang pandai berkelahi, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan hawa nafsunya tatkala marah� (HR Bukhari, Muslim).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas�ud r.a., beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda : � � siapakah orang yang kuat menurut kalian?, kami menjawab: �Orang yang tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun�. Rasulullah SAW bersabda: �Bukan, tapi mereka adalah orang yang bisa menahan amarahnya�. Dalam riwayat lain beliau bersabda: �Orang yang kuat adalah orang yang ketika memuncak amarahnya tatkala wajahnya memerah dan rambutnya berdiri ia mampu melawan amarah dirinya (menahannya)�.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. dengan sanad yang hasan bahwa Rasulullah SAW bersabda: � � tidak ada keberanian yang lebih dicintai Allah SWT dari keberanian seseorang yang menahan amarahnya ��. Sabda Rasulullah: Padahal ia mampu untuk melampiaskannya.

Melampiaskan kemarahan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Baik dengan cara memukul orang yang telah membuatnya marah bahkan membunuhnya. Atau memenjarakannya jika ia seorang yang mempunyai kekuasaan dalam sebuah negara atau ia sebagai seorang tuan dari hamba sahaya. Oleh karenanya Rasulullah SAW pernah menasihati Abu Mas�ud r.a. ketika memarahi hamba sahaya yang ada dalam kekuasaannya, �Ketahuilah wahai Abu Mas�ud, sesungguhnya Allah lebih mampu (untuk marah) kepadamu daripada kemampuan yang engkau miliki pada anak ini�. Mengakui kebesaran Allah SWT merupakan suatu syarat bagi seorang hamba dalam mendapatkan pahala menahan amarah di atas. Karena, orang yang kuat tidak mungkin untuk menahan amarahnya kecuali karena dua hal. Pertama, takut karena dihadapkan pada orang yang lebih kuat. Kedua, mengharap sesuatu yang lebih berharga yang ada di sisi Allah.

Sabda Rasulullah SAW: Allah akan memanggilnya. Maknanya bahwa Allah SWT akan memanggilnya nanti di akhirat di depan seluruh makhlukNya. Dan Allah akan memujinya dengan apa yang telah ia lakukan dari menahan amarah. Dalam penggalan hadis ini ada satu ajaran akidah ahlussunnah wal jamaah yang menetapkan sifat kalam bagi Allah SWT di padang mahsyar nanti.

Sabda beliau: Allah akan memberinya pilihan Ini merupakan pahala orang yang sekadar bisa menahan amarahnya. Bagaimana jika ia menyempurnakannya dengan memberi maaf kepada orang yang bersalah? Imam Nawawi berkata: �Kemulian akhlak itu adalah berbuat baik kepada orang yang menyakitimu, karena berbuat baik kepada orang yang melakukan kebaikan kepadamu merupakan sebuah perdagangan�.

Penutup
Untuk menahan amarah ini, Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita untuk mengambil wudhu. Beliau bersabda: �Marah itu sebagian (sifat) setan, dan setan diciptakan dari api, dan api itu dipadamkan dengan air, maka jika kalian marah berwudhulah� (HR Ahmad & Abu Dawud).

Marilah kita mengejawantahkan nasihat Rasulullah SAW ini dengan penuh keikhlasan kepada Allah SWT. Kita camkan dalam diri kita, siapakah kita di hadapan Allah? Sungguh kita adalah makhluk yang sangat kecil dan hina. Kekuasaan Allah kepada kita melampaui kekuasaan kita pada orang yang kita marahi. Maka dari itu, jika kita lampiaskan amarah itu, kita takut jika Allah akan menumpahkan kemarahan-Nya kepada kita pada hari kiamat. Sebagaimana kita begitu butuh pada maghfirah-Nya. Begitu juga saudara kita yang telah khilaf kepada kita membutuhkan suatu kesabaran yang akan membawa pada ikatan persaudaraan keimanan dan ketakwaan. Jika kita ingin selamat dari murka Allah, maka marilah kita belajar menahan amarah tersebut. Abu Ya�la meriwayatkan dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: � Barangsiapa yang menahan amarahnya, maka Allah SWT akan menahan darinya azab-Nya�. Wallahu ta�ala a�lam.

Satu Tanggapan

  1. orang yg suka marah biar pinter sekalipun, kayak nggak punya ilmu sama sekali. bener nggak, soalnya orang takut deket-deket.

    Memang iya… tapi memang susah menahan marah …apalagi kalau situasi lagi nggak stabil.. tapi begaimanapun kita harus berusaha.. untuk sabar.. !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: