Orang tua itu..seperti…

Waktu aku jalan-jalan kepasar sama isromah.. et jangan salah ya.. maksudnya “istri orang rumah”.. he he he..!. terasa sekali panasnya cuaca hari itu. Tapi gak apa-apalah sekali-kali jalan-jalan sambil rekreasi setelah seminggu diporsir banting tulang peras keringat.

Oh ya.. setelah beli baju buat mutiara ku sikecil lalu bersiap-siap untuk pulang. Pas waktu mau ambil motor, aku melihat orang tua sedang membuka dagangannya di pintu keluar pasar. Sangat sibuk kayaknya, maklum dia berdagang sendiri. Dan anehnya yang dijual cuma satu jenis dagangan yaitu apa namanya…? waduh aku nggak tahu apa tuh nama barangnya. Tapi barang tersebut terbuat dari pandan dengan bentuk bulat kira-kira berdiameter 10 cm, dan biasanya digunakan oleh ibu-ibu untuk membawa beras dalam berta’ziah. waduh..kalau ada yang tahu tolong info kesini ya..!

Tapi yang jadi perhatian bukannya barang yang dijual itu, tapi orang tua itu. Dilihat dari wajahnya memang selayaknya udah harus istirahat di rumah, di penuhi kebutuhannya oleh anak-anaknya atau oleh cucunya. Tapi orang tua itu masih berjuang untuk hidup walau harus berpanas-panas. “Benar-benar sebuah realita kehidupan yang trenyuh di hati”.

Oh, ya kebetulan isromah mau cari benda tersebut yang memang dibutuhkan diacara-acara ta;ziah, karena teman-temannya memang udah pada punya. Lalu kami hampiri orang tua itu. Dan ditawarkan barang tersebut dengan harga 10.00/buah. Dan terjadi tawar menawar harga. Kami selingi juga dengan ngobrol ringan dengan bapak tersebut dan rupanya bapak itu masih menggunakan bahasa kampungnya. Dan aku terhenyak bahwa barang tersbut dibawa sejauh 300 km dari kampungnya menuju pasar.

Aku jadi berpikir, orang tua itu juga seperti ayahku waktu aku kecil. Rupanya begini susahnya mencari kehidupan. Dari muda hingga tua terus berjuang demi apa yang dicita-citakan. Begitulah ayah dan ibuku dulu mencari rizki untuk merubah hidup jadi lebih baik hingga sampai di pulau seberang yang aku tinggali sekarang ini. Dia tidak mengharap pengembalian, tidak mengharap balas budi. Tapi dengan ikhlas selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup anak-anakanya. Dia seperti matahari yang menyinari seluruh alam, tapi tidak mengharap balasannya.

Ayah, ibu…!

Maakan segala salah dan dosaku….!

Maafkan diriku ini yang selalu bandel waktu kecil…!

Maafkan diriku ini yang tidak bisa memberi perhatian yang lebih kepadamu……!

Hanya do’a yang bisa aku berikan.. semoga Allah,SWT memberikan kebahagiaan, kesehatan dan rizki yang melimpah.

Oh ya setelah harga yang ditawar cocok, lalu kami pulang kerumah dengan sejuta perasaan “Orang tua penjual itu selalu mengingatkanku pada orang tuaku…..!”

3 Tanggapan

  1. Pendaftaran Top-Posts Maret-April 2007 telah dibuka.
    Silakan daftarkan postingan Anda di
    http://muhshodiq.wordpress.com/2007/05/02/pendaftaran-top-posts-maret-april-2007/

  2. bagai mana membuat payudara

  3. simi-simi kau kenal eduardus ghale

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: