Giliran Praja IPDN bersuara

Sebanyak 4.000 Praja IPDN Jatinangor menuliskan isi hati dan perasaan mereka dalam kain berwarna putih sepanjang 5.000 meter yang dibentangkan di Kampus IPDN hari jum’at kemarin.

Mereka mengutarakan isi hatnya dalam kain tersebut dengan menuliskannya menggunakan spidol. Tapi rata-rata mereka tidak setuju kalau IPDN dibubarkan. Ya.. jelas aja dong masak sekolah mereka mau dibubarkan..? Siapa yang mau gitu loh…!Tapi memang itulah demokrasi, siapa aja boleh bersuara…! tidak seperti zaman dulu, seolah kita dibungkam tidak bisa ngapa-ngapain…!

Tapi aksi mereka ini sebenarnya tidak membuat kaget bagi kita. Karena walaupun tidak ada aksi tersebut pasti kita sudah menduga bahwa praja IPDN tidak akan setuju kalau sekolahnya dibubarkan. Lain kalau yang melakukan itu orang diluar IPDN dan ada yang setuju dan ada yang tidak. Lha ini yang melakukan Praja IPDN… ya jelas dong mereka gak mau.

Tapi yang membuat jadi bangga ya mereka itu masuk MURI gitu lho. Pak Jaya Suprana sebagai ketua MURI menganugerahkan itu sebagai kain terpanjang yang belum pernah ada sebelumnya. Wah…! Tapi ingat lho itu akan di cabut bila IPDN tidak ada perubahan..!

7 Tanggapan

  1. esensinya bukan dari panjangnya kain protes itu… tetapi apa yg diprotes sama mereka..
    mereka juga punya hak…
    mereka itu knp bersuara skrg? apa ada dorongan? knp kmrn mreka tidak ngomong.. apa jujur itu harus.. menunggu….??

  2. He..he..he…biasalah mereka2 mo cari sensasi. Eh, kenapa yang dicatat dalam MURI itu spanduknya ya?! kenapa tidak kekerasan yg menimbulkan korban jiwa terbanyak yang dicatat MURI ya?!

  3. Sempet2nya Jaya Suprana ngasih MURI segala. Dasar pengusaha, nyari sensasi biar tetep terkenal dan bisnisnya laku..

  4. yang merasakan hanyalah kami para praa ipdn,,,bukan org lin yang hanya bisa mengkritik….
    tapi kami berterimakasih atas kritikan yang membangun tsb..
    bhineka nara eka bhakti………praja!!!!!!!!!!!!!!

  5. terima kasih banyak
    ternyata masih banyak orang yang peduli dengan IPDN
    terlalu objektif memang
    tetapi ini merupakan bentuk kepedulian masyarakat khususnya pemuda terhadap pendidikan di negeri ini
    saya sempat berkata- kata
    coba kalau kalian berada diposisi kami
    yaitu sebagai seorang praja
    tentunya akan bercerita tentang perasaan yang kami rasakan
    tetapi bila sayapun menempatkan diri sebagai seorang “pemuda penerus perjuangan bangsa”
    tentunya saya juga akan berkomentar seperti halnya teman- teman mahasiswa dan masyarakat sekalian
    saya sangat yakin
    ini merupakan bentuk kepedulian kita bersama
    untuk saling memperbaiki diri….

    review_pada spanduk tersebut saya menuliskan;
    “mencintai bukan bagaimana kita melupakan
    tapi bagaimana kita MEMAAFKAN
    mencintai bukan bagaimana kita mendengar
    tapi bagaimana kita MENGERTI
    bukan apa yang kita lihat
    tapi apa yang kita RASA
    bukan bagaimana kita melepaskan
    tapi bagaimana kita MEMPERTAHANKAN
    aku, kamu dan kita
    mencintai lembaga pendidikan ini bukan?
    lalu, apakah kita sudah belajar MEMAAFKAN?
    mencoba MENGERTI dan MERASAKAN?
    serta berusaha MEMPERTAHANKAN?”

    jauh dilubuk hati kita
    tentunya kita pernah memiliki kebanggaan terhadap IPDN
    tentunya pula bukan dengan permasalahan2 yang bermunculan
    tetapi melihat kebelakang
    mengapa sekolah kepamongan seperti ini dibutuhkan?
    beban psikologis yang kami rasakan
    bukan hanya kemarin, saat ini tetapi hingga esok dan seterusnya kami rasakan
    cobaan ini
    semoga dapat membuka mata kita bersama
    bahwa saling menyalahkan tidak akan menyelesaikan masalah
    justru disinilah kita dituntut untuk saling bahu membahu memperbaiki bangsa
    dengan semangat “kebangkitan nasional”

  6. Knp pemikiran masyarakat diluar sana begitu kolot? bukannya kami melakukan pembenaran ato ap? Tp kami di dalam kampus IPDN tidak seanarki yang dibayangkan diluar swana. Kami masih dalam aturan ato koridor yang ada. Jangan pernah menghakimi kami dengan keterlaluan, karena Tuhan sj maha pengampun knp qt manusia tidak bisa saling memaafkan? Klo memang output kampus lembah manglayang ini tidak ada gunanya, lalu knp tiap tahun banyak putra-putri daerah yang dikirim belajar kemari? apakah ini bukan bukti riil bahwa sdm output kami masih sangat dibutuhkan oleh pemda. jauh2 kami dari seluruh pelosok tanah air datang ke sini dg harapan utk mjd lebih baik, spy kami bs membangun daerah kami, kami dh dibiayai negara tidak mungkin kami akan menyia-nyiakan uang tsb. Kami akan bktikan klo kami bukan sampah masyarakat, tapi kami merupakan kader2 pemerintahan yang siap mengabdi, berbakti jiwa dan raga demi nusa dan bangsa. Seperti syair yang selalu kami nyanyikan yaitu ” Hymne abdi Praja”. Kami akan buktikan!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  7. Trimakasih atas krtik sarannya, kami berharap segala sesuatu penilaian objektif dalam pertimbangan yang berimbang, knapa? krna daerah sendiri masih sangat membutuhkan dengan kualitas SDM Alumni IPDN yang disiplin, berkualitas, nasionalis dan tangguh dalam menyikapi pelaksanaan tugas yang relatif mendukung pelayanan kepada masyarakat. jadi kami tidaklah eksklusif dalam pendidikan tapi kami adalah abdi masyarakat yang siap dalam segala hal, BHINEKAA NARA EKA BHAKTI>>>>>>PRAJAA….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: