Silaturrahmi makin terkikis

Perkembangan teknologi yang pesat sangat mempengaruhi corak dan gaya kehidupan manusia.  Orang saat ini menyebutnya era digital.  Semua arus informasi dan alat/produk membanjiri setiap sudut-sudut kehidupan di rumah kita.  Di lain pihak hal ini menimbulkan berbagai persoalan yang siap menghadang manusia itu sendiri seperti pengangguran, berubahnya status sosial masyarakat, tuntutan ekonomi, penyimpangan perilaku dan lain sebagainya. 

Sudah banyak orang yang sudah berubah gaya hidupnya. Kalau dulu waktu aku masih kecil di kampung hanya ada beberapa orang yang mempunyai Televisi, sehingga orang berbondong-bondong untuk menontonnya.  Dan hal ini menimbulkan seringnya orang tersebut bertemu satu sama lain dan selalu berinteraksi serta saling kunjung mengunjungi.  Dan sekarang coba kita lihat, hampir setiap rumah minimal ada satu Televisi, mungkin ada juga yang dilengkapi dengan internet.  Orang hanya cukup berdiam diri di rumah dan duduk nyantai untuk mencari informasi dari luar.  Kemudian tingginya kesibukan dari pekerjaan yang dilakukannya, sehingga tidak sempat untuk mengenal lingkungan sekitarnya. Tetangga kiri dan kanannya banyak tidak di kenal. Makanya jangan heran, kalau orang bertanya ‘Dimana rumah si Anu’, lalu dijawab “tidak tahu’. Padahal setelah di cek ke TKP, ternyata tetangga sebelah rumahnya sendiri. Sungguh ironis memang, tapi itulah kenyataannya.

 Apalagi kehidupan di masyarakat perkotaan. Interkasi sosialnya cenderung bersifat gap/pemisahan yang diakibatkan oleh perbedaaan pekerjaan, status sosial atau tingkat ekonomi. Gap ini terbentuk dengan sendirinya.

 Akankah hal ini lepas dari pikiran kita ? Kita selalu sibuk untuk pekerjaan dan bisnis kita, sementara kita tidak peduli dengan lingkungan sekitar kita. Bagaimana kita akan membentuk masyarakat yang berbudaya dan mendidik anak-anak di lingkungan kita? Sementara kita asyik dengan urusan pribadi kita ? Ya, kita memang harus berbagi waktu untuk itu. Ada saatnya kita bekerja untuk keluarga dan hisup kita, disisi lain kita juga harus menjaga dan mempertahankan hubungan silaturrahmi dan kekeluargaan di masyarakat kita. Sekarang kita harus membagi waktu yang 24 jam, menjadi beberapa bagian, yaitu :

 

  1. kerja 8 jam
  2. keluarga 8 jam
  3. Ibadah ritual dan masyarakat 8 jam

 Ketentuan diatas tidak mutlak, silahkan dirubah sesuai dengan porsinya, yang penting ketiga hal diatas harus ada. Bagaimana…? SIAP.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: