Polisi Tidur

Aku tinggal di kawasan perumahan pinggiran kota yang sedang berkembang di daerah Pekanbaru. Tepatnya di panam. Tempat kerjaku kira-kira setengah jam perjalanan dengan kecepatan motor 60 km/jam. Itulah aktivitas ku setiap hari. Dari rumah berangkat minimal jam 07 sudah harus berangkat dari rumah atau sebelum jam tujuh sudah berangkat kalau ingin tidak terlambat. Kemudian pulang kerja jam 04:30. Itu kalau aktivitas normal, kalau kadang-kadang ada kelas mengajar sore, ya… harus merelakan waktu diulur untuk pulang sampai jamg 06 sore.

Jalan masuk ke perumahan termasuk jalan yang ramai. Karena memang kebanyakan orang-orang tersebut banyak bekerja di tengah-tengah kota dan mengambil perumahan di area sekitar perumahan kami tersebut. Jalan yang di lalui tidak begitu lebar, tapi yang melewatinya sangat ramai, apalagi kalau pagi hari orang-orang pada keluar semua untuk beraktivitas termasuk anak-anak sekolah. Jalan tersebut memang sudah bagus, karena sering adanya pengaspalan jalan. Hal ini mungkin berkaitan dengan adanya rumah potong hewan yang melalui jalan tersebut. Sehingga kalau ada jalan rusak, akan cepat diperbaiki. Dan itu sangat bagus sekali.

Mungkin karena jalan yang bagus dan lurus, maka orang banyak yang mengendarai kendaraanya dengan kecepatan tinggi. Akibatnya di jalan tersebut banyak sekali terjadi kecelakaan. Bahkan tercatat dalam 1 bulan yang lalu terjadi kecelakaan sebanyak 2 kali. Mungkin karena hal inilah yang membuat masyarakat di daerah itu membuat alat untuk memperlambat laju kendaraan yang melintas atau yang biasa disebut APK (alat pengendali kecepatan). Tapi entah kenapa disebut polisi tidur. Saya juga tidak tahu dari mana asal kata tersebut. Orang bilang itu namanya polisi tidur,…ya aku ngikut aja.

Dari mulai jalan masuk sepanjang 3 km, banyak masyarakat yang memasang polisi tidur dengan tali dan sudah tercatat sebanyak 7 buah. Dengan kelompok 3 tempat, artinya kelompok pertama ada 2 tali, kemudian kelompok yang kedua ada 2 tali dan kelompok yang ketiga ada 3 buah tali dengan jarak kira-kira jarak 1 kleompo tersebut 10 m.

Menurut pengamatan kami, sepertinya para pengendara termasuk saya sendiri kurang nyaman dengan banyaknya polisi tidur itu. Karena sebentar-bentar harus ngerem untuk melewati rintangan itu. Pokoknya kurang nyamanlah. Memang kami juga tahu kita harus mengutamakan keselamatan baik antara sesama pengendara ataupun orang yang jalan kaki melewati jalan tersebut, tapi juga pengendara pun ingin kenyamanan dalam berkendara. Tidak sampai setengah kilo sudah ada polisi tidur lagi dan lagi….! Pokoknya agak repotlah.

Kemungkinan apa yang kami rasakan juga dirasakan oleh orang lain juga. Terbukti sudah ada 1 rintangan yang dibongkar dan sebagian tali ada yang dipotong sebelah kanan dan kirinya, sehingga kalau untuk motor masih bisa melewati tanpa rintangan itu. Semoga niat baik masyarakat untuk mengurangi kecelakaan terlaksana dengan baik tapi juga tidak mengurangi kenyamanan orang yang berkendara. “Semoga aja”. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: