Ayah nyuci..(“haahh nyuci…!”)

Malam itu bersama saudaraku berkunjung ke saudara yang lain.  seperti biasanya, kalau ada saudara yang datang dari jauh, maka saling kunjung mengunjungi merupakan hal yang harus dilakukan.  Bukan hanya untuk mengikat tali persaudaraan, tetapi juga untuk saling mengenal tautan atau silsilah dari masing-masing keluarga.  Karena bukan tidak mungkin bahkan memang ada yang terjadi kan, kalau seorang paman sampai gak kenal sama ponakannya.  Waktu dulu ditinggal merantau masih anak-anak, terus sekarang sudah pada dewasa dan bahkan sudah ada yang menikah, namun karena jauhnya perantauan maka pulang kampung pun jarang.

Dengan 2 pasang roda dua dan 4 penumpang, aku dan saudaraku melaju dengan pelan tapi pasti.  Sekitar jam 7:20 sampai di rumah yang di tuju.  Lalu saudara ku mengetuk pintu rumah tersebut, namun tidak ada jawaban. Akhirnya diulang lagi.. sampai beberapa kali namun tidak juga ada jawaban.  Akhirnya kami intip dari kaca jendela dan melihat seorang anak kecil umuran 5 tahun berjalan kearah pintu untuk membuka pintu rumahnya.

“Adek, ayah ada?”

Dengan polos menjawab “Nyuci….”

Lalu saudaraku itu menjawab ” Haacch nyuci?”.  Sejenak kami tertegun dengan pernyataan saudaraku itu. “Nyuci”, ya..nyuci.. emangnya kenapa dengan nyuci. Pernyataan saudaraku  itu sepertinya kaget mendengar kata “Nyuci” yang dilakukan seorang ayah.  Kemungkinan “Nyuci” yang biasanya dilakukan oleh ibu tapi kenapa ayah yang melakukannya, itu yang membuat dia agak aneh.

Perbedaan jender laki-laki dan perempuan saat ini sudah semakin tipis baik dilihat dari segi status ekonomi, pendidikan, pekerjaan,  sosial, pemerintahan dan lain-lain.  Hampir semua pekerjaan laki-laki bisa dikerjakan oleh kaum wanita, begitu pun sebaliknya. Apalagi kehidupan di kota-kota besar yang menuntut suami istri harus bekerja keras untuk bisa tetap bertahan hidup, maka perbedaan laki-laki dan perempuan nyaris hilang.  Yang dulunya agak aneh, maka sekarang merupakan hal yang biasa.

Lalu bagaimana dalam konteks kehidupan rumah tangga?  Apakah persamaan ini merupakan hal yang positip bagi mereka. Dalam kondisi tertentu pekerjaan laki-laki dan perempuan kadang tidak bisa di pisah menurut jender.  Memang laki-laki pada kodratnya melakukan pekerjaan yang berat, penuh resiko, tantangan, karena ini merupakan sifat kelelakiannya.  Sedangkan perempuan tidak dikodratkan untuk melakukan itu. Tetapi dalam perkembangannya baik  kondisi ekonomi yang mendesak serta keinginan perempuan untuk maju (emansipasi wanita) maka pekerjaan laki-laki dan perempuan menjadi sama dan tidak ada bedanya.

Pertanyaannya: Kalau pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh laki-laki dikerjakan oleh perempuan, maka hal ini merupakan hal yang biasa.  Tetapi kenapa bila pekerjaan yang biasa dikerjakan perempuan dilakukan laki-laki menjadi hal yang aneh.  Apakah cuma beberapa orang saja yang masih menganggap aneh seperti saudaraku itu? Kalau di survey kira-kira apakah sebagian besar menganggap itu merupakan hal yang biasa.

Contoh yang paling extrim adalah : Perempuan bisa pakai celana, tetapi jangan coba-coba laki-laki pakai rok…(kalau nekat tanggung sendiri akibatnya).  Bagaimana pendapat anda?

Satu Tanggapan

  1. yg sabar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: